Kota Salatiga
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
"Salatiga" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Salatiga (disambiguasi).
Lambang Kota Salatiga ꦑꦸꦛꦯꦭꦠꦶꦒ Moto: Çrir Astu Swasti Prajabhyah Semboyan: Salatiga Hati Beriman (Sehat, Tertib, Bersih, Indah dan Aman) | |
| Kawasan Tamansari | |
![]() Peta lokasi Kota Salatiga ꦑꦸꦛꦯꦭꦠꦶꦒ Koordinat: 1100.27'.56,81" - 1100.32'.4,64" BT
0070.17'. - 0070.17'.23" LS
| |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Dasar hukum | UU No. 13/1950 |
| Tanggal Peresmian | 24 Juli 750 |
| Pemerintahan | |
| - Walikota | Ahmad Rofai (PJS) |
| - DAU | Rp603.204.201.915,-(2013)[1] |
| Luas | 56,781 km² |
| Populasi | |
| - Total | 177,088 jiwa (2011) |
| - Kepadatan | 9.849 |
| Demografi | |
| - Kode area telepon | 0298 |
| Pembagian administratif | |
| - Kecamatan | 4 |
| - Kelurahan | 22 |
| Simbol khas daerah | |
| - Flora resmi | Rejasa |
| - Fauna resmi | Anis merah |
| - Situs web | www |
Kota Salatiga (bahasa Jawa: Hanacaraka ꦑꦸꦛꦯꦭꦠꦶꦒ), adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan sepenuhnya dengan Kabupaten Semarang. Salatiga terletak 49 km sebelah selatan Kota Semarang atau 52 km sebelah utara Kota Surakarta, dan berada di jalan negara yang menghubungkan Semarang-Surakarta. Salatiga terdiri atas 4 kecamatan, yakni Argomulyo, Tingkir, Sidomukti, dan Sidorejo. Kota ini berada di lereng timur Gunung Merbabu, sehingga membuat kota ini berudara cukup sejuk. Mulai tahun 2014 direncanakan pemekaran wilayah di dalam kota Salatiga segera terwujud, yaitu membagi kelurahan Kutowinangun menjadi 2 wilayah sehingga menjadi kelurahan Kutowinangun Lor (utara) dan Kelurahan Kutowinangun Kidul (selatan) mengingat wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang padat serta permintaan dari warga sebagai latar belakang pemekaran wilayah dan sudah diajukan kepada pemerintah negara Republik Indonesia [2]. Dari letak administratif yang ada menjadikan kota Salatiga menduduki peringkat luas wilayah ke-18 kotamadya terkecil di Indonesia.
Daftar isi
[sembunyikan]Etimologi[sunting | sunting sumber]
Dahulu kala di daerah pedalaman, memerintahlah seorang bupati bernama Ki Ageng Pandan Arang (Pandanaran). Ia hanya memuaskan diri dengan kekayaannya. Dan memeras rakyat dengan menarik pajak yang berlebihan. Pada suatu hari, Ki Ageng Pandan Arang, bertemu dengan Pak tua, tukang rumput. Kemudian Ki Ageng meminta rumput yang Pak tua bawa. Namun Pak tua menolaknya dengan alasan untuk ternaknya. Tetapi Ki Ageng tetap memintanya dan Ki Ageng menggantinya dengan sekeping uang. Tanpa diketahui Ki Ageng Pandan Arang, Pak tua menyelipkan kembali uang itu dalam tumpukan rumput yang akan dibawa. Dan hal tersebut terjadi berulang-ulang. Sampai suatu kali Sang bupati menyadari perbuatan Pak tua tersebut. Dan marahlah ia dan menganggap bahwa Pak tua telah menghinanya.
Pada saat itu, tiba-tiba Pak tua berubah wujud menjadi Sunan Kalijaga seorang pemimpin agama yang dihormati bahkan oleh raja-raja. Maka bupati Pandanaran pun sujud menyembah dan memohon untuk memaafkan kekhilafannya. Akhirnya Sunan Kalijaga memaafkannya, namun dengan syarat Ki Ageng harus meninggalkan seluruh hartanya dan mengikuti Sunan Kalijaga pergi mengembara.
Namun istri bupati melanggar, ia membawa emas dan berlian dan memasukkannya ke dalam tongkat. Dan di tengah perjalanan mereka dicegat sekawanan perampok. Sunan Kalijaga menyuruh perampok itu untuk mengambil harta yang dibawa istri bupati. Dan akhirnya perampok itu pergi dan merebut tongkat yang berisi emas dan berlian.
Setelah perampok itu pergi Sunan Kalijaga berkata,Aku akan menamakan tempat ini Salatiga karena kalian telah membuat tiga kesalahan. Pertama, kalian sangat kikir. Kedua kalian sombong. Ketiga kalian telah menyengsarakan rakyat. Semoga tempat ini menjadi tempat yang baik dan ramai nantinya.
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Ada beberapa sumber yang dijadikan dasar untuk mengungkap asal usul Salatiga, yaitu yang berasal dari cerita rakyat, prasasti maupun penelitian dan kajian yang cukup detail. Dari beberapa sumber tersebut Prasasti Plumpungan-lah yang dijadikan dasar asal usul Kota Salatiga. Berdasarkan prasasti ini Hari Jadi Kota Salatiga dibakukan, yakni tanggal 24 Juli 750 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 Tahun 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Salatiga

0 komentar:
Posting Komentar